Remaja Masjid Al-Inabah

Remaja Masjid Al-Inabah

Jumat, 21 Desember 2012

Sholawat



Sholawat



‎
يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

(( صلاة الشهود على سيد الوجود ))
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى الْحَبِيبِ الأَعْظَم* وَالْمَلاذِ الأَفْخَم* طِبِّ قَلْبِي وَالْبَلْسَم* سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بْنَ عَبْدِ الله* صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَدَدَ مَافِي عِلْمِ الله* صَلاةً يُفَاضُ نُورُهَا عَلَى جَمِيعِ أَجْزَاءِ ذَاتِي فَيَجْعَلُنِي مُسْتَغْرِقًا بِالْكُلِّيَّةِ فِي شُهُودِ ذَاتِهِ الْعَلِيَّة* فَلا أَتَحَرَّكُ حَرَكَةً إِلاَّ وَفِيهَا سِرُّحَرَكَاتِهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ) وَلا أَتَنَفَّسُ نَفَسًا إِلاَّ وَفِيهِ عَبِيرُ أَنْفَاسِهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلِّمَ) وَلا أَسْكُنُ سُكُونًا إِلاَّ وَفِيهِ طِيبُ سَكَنَاتِهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ) وَلا أَقُولُ قَوْلاً إِلاَّ وَفِيهِ نُورُ أَقْوَالِهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ) وَلا أَفْعَلُ فِعْلاً إِلاَّ وَفِيهِ هَدْيُ أَفْعَالِهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ) وَلا يَكُونُ بِي حَالٌ إِلاَّمِنْ فَيْضِ أَحْوَالِهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ) وَلا لِيَ مَقَامٌ إِلاَّ مِنْ بَرَكَةِ مَقَامَاتِهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّم)* صَلِّ عَلَيْهِ رَبَّنَا عَدَدَ الْحَرَكَاتِ وَالسَّكَنَاتِ وَالأَنْفَاسِ وَالأَقْوَالِ وَالأَفْعَالِ وَالأَحْوَالِ وَالْمَقَامَاتِ الَّتِي حَدَثَتْ فِي الْكَائِنَاتِ مِنْ قَبْلِ الْقَبْلِ إِلَى بَعْدِ الْبَعْدِ بِلا كَيْفٍ وَلاكَمٍّ وَلاحَصْرٍ وَلاعَد وَاجْعَلْ كُلَّ ذَلِكَ وَأَضْعَافَ أَضْعَافَهُ إِلَى مَالا نِهَايَةَ فِي صَحِيفَتِهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّم)* هَدِيَّةً لَهُ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّم)* مِنْ أَجْلِهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّم)* بِجَاهِهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّم)* صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَتَابِعِيهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّين* وَسَلامٌ
عَلَى الْمُرْسَلِينَ* وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِين

((صلاة النارية))
اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن الخواتم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى آله وصحبه في كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك

((الصلاة للسيد احمد أبي العباس التجاني المغربي))
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله صلاة تعدل جميع صلوات أهل محبتك وسلم على سيدنا محمد وعلى آلع سلاما يعدل سلامهم


Siapa gerangan Semut Sulaiman?



Siapa gerangan Semut Sulaiman?




Ø  dia adalah semut wanita (abu hanifah) bernama yamhalun (ad-damiri) juga bernama hazma/thohiyah/syahidah (sulaiman al-jamal), dan semut wanita ini pincang (al-birmawy).

Ø  ketika Sulaiman a.s berhajat menunaikan sholat istisqo' di lembah naml, semut wanita nan pincang ini berkata kepada kaumnya: ''wahai para semut masuklah kesarang, hingga jangan sampai kalian hancur akibat sulaiman dan kaumnya sedang mereka tidak tahu'' (an-naml:18).

Ø  semut ini lantas menjatuhkan diri di atas punggungnya seraya berdo'a: ''wahai Alloh, aku adalah makhluk dari beberapa makhluqMu, tiada kecukupan bagi kami selain rizkiMu, maka jangan Engkau hancurkan kami akibat dosa-dosa anak adam''. (sulaiman al-jamal).

Ø  Nabi Sulaiman a.s lantas tersenyum dan berdo'a mengharap syukur dan Ridho (an-Naml:19).

Ø  coba kita fikir polarisasi antara keduanya, manusia dan semut, laki-laki dan wanita, sempurna dan cacat, kaya raya dan fakir miskin, Nabi juga Rasul dan hamba, Raja adikuasa dan rakyat jelata.

Ø  yang terhebat dari kisah ini adalah Kehebatan Nabi Sulaiman a.s yang mampu menggerus rasa keegoisanNya, mematikan perasaanNya. Pengendalian diri yang sempurna. Berbeda jauh dengan apa yang sering kita lihat, manusia yang penuh egois, tidak ada kebenaran apapun selain dia, tidak ada yang boleh berlaku kecuali dia, hingga tak satupun ada darinya yang boleh tersentuh.

Ø  jika anda berkata: ''Sulaiman kan Nabi, sementara kita orang biasa, mana bisa meniruNya?''. Maka marilah kita jawab: ''bahwa perbedaan status Nabi dan manusia biasa bukanlah sebuah alasan untuk melakukan tindakan yang tak benar, perbedaan status janganlah menjadi tameng atas dihalalkannya tindakan buruk. Selebihnya adanya Nabi dan Rasul adalah akibat dari kedisiplinan, ketakwaan, dan ketaatan, bukan semata hadiah belaka dari Tuhan. Hingga di akhirat nanti setiap orang akan ditanya setiap amalnya tanpa ditanya statusnya. Jika Nabi sekaligus Raja adidaya yang memiliki segalanya bisa menghormati dan berendah diri terhadap semut, akankah anda yang manusia biasa bercongkak diri, dan melakukan dosa dengan beralasan perbedaan status?''.

Ø  kisah Nabi Sulaiman a.s dan semut ini disebutkan dalam alqur'an sebagai keteladaan dalam menghormati, menghargai, menjaga dan rasa toleransi terhadap sesama makhluk Tuhan.

Selasa, 18 Desember 2012

SUMBER PERPECAHAN DALAM ISLAM



INILAH SUMBER PERPECAHAN DALAM ISLAM



Sumber 72 Firqah adalah dari 7 Firqah

Di dalam kitab Bughyat al-Mustarsyidin karangan as-Sayyid al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar, yang terkenal dengan gelar Ba’alawi, cetakan Mathba’ah Amin Abdul Majid Kairo (Mesir) tahun 1960M/1381 H halaman 398, bahwa 72 firqah yang sesat itu bertumpu pada 7 firqah yaitu:

1.       Faham Syi’ah, kaum yang berlebih-lebihan memuja Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw. Mereka tidak mengakui Khulafaur Rasyidin yang lain seperti Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalifah Umar bin Khattab dan Khalifah Utsman bin Affan. Kaum Syi’ah terpecah menjadi 22 aliran, termasuk diantaranya adalah Kaum Bahaiyah dan Kaum Ahmadiyah Qadyan.
2.       Faham Khawarij, yaitu kaum kaum yang berlebih-lebihan membenci Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bahkan diantaranya ada yang mengkafirkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Firqah ini berfatwa bahwa orang-orang yang membuat dosa besar menjadi kafir. Kaum Khawarij terpecah menjadi 20 aliran.
3.       Faham Mu’tazilah, yaitu kaum yang berfaham bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, bahwa manusia membuat pekerjaannya sendiri, Tuhan tidak bisa dilihat dengan mata dalam surga, orang yang mengerjakan dosa besar diletakkan di antara dua tempat, dan mi’raj Nabi Muhammad Saw. hanya dengan roh saja, dll. Kaum Mu’tazilah terpecah menjadi 20 aliran, termasuk diantaranya adalah Kaum Qadariyah.
4.       Faham Murjiah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa membuat maksiat (kedurhakaan) tidak memberi mudharat jika sudah beriman, sebaliknya membuat kebaikan dan kebajikan tidak bermanfaat jika kafir. Kaum ini terpecah menjadi 5 aliran.
5.       Faham Najariyah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa perbuatan manusia adalah makhluk, yaitu dijadikan Tuhan, tetapi mereka berpendapat bahwa sifat Tuhan tidak ada. Kaum Najariyah terpecah menjadi 3 aliran.
6.       Faham Jabariyah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa manusia “majbur”, artinya tidak berdaya apa-apa. Kasab atau usaha tidak ada sama sekali. Kaum ini hanya 1 aliran.
7.       Faham Musyabbihah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa ada keserupaan Tuhan dengan manusia, misal bertangan, berkaki, duduk di kursi, naik dan turun tangga dll. Kaum ini hanya 1 aliran saja. Kaum Ibnu Taimiyah termasuk dalam golongan ini, dan Kaum Wahabi adalah termasuk kaum pelaksana dari faham Ibnu Taimiyah.

Jika ditambah dengan 1 aliran lagi yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah maka menjadi 73 firqah, seperti yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam hadits riwayat Imam at-Tarmidzi.

Minggu, 02 Desember 2012

Perjumpaan al-Habib Mundzir bin Fuadz al-Musawa dengan Waliyullah Malaysia


Perjumpaan al-Habib Mundzir bin Fuadz al-Musawa dengan Waliyullah Malaysia.



Al-Habib Mundzir al-Musawa sering berkunjung pada al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus manakala beliau sedang berada di Malaysia. Al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus sangat gembira jikalau ada al-Habib Mundzir datang.
Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus selalu tersenyum gembira. Sesaat kemudian al-Habib Munzdir meminta doa dari beliau, maka beliau pun berdoa untuknya. Biasanya al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus selalu menolak untuk berdoa kecuali tamunya yang mesti berdoa, namun permintaan kali ini tak ditolak oleh beliau seraya mengangkat kedua tangannya setinggi-tingginya hingga ke atas kepala. Kedua telapak tangannya dipadukan, dan wajah beliau menunduk. Suara rintih keluar dari bibirnya tak bisa dipastikan apa yang diucapkannya. Benar-benar gerakan doa yangg menggambarkan posisi yang sedang sangat mengemis pada Dzat Yang Maha Luhur. Belum pernah al-Habib Mundzir melihat seseorang yang berdoa dengan posisi sekhusyu’ dan seperti ini dalam merendahkan dirinya pada Allah Swt.
Setelah itu al-Habib Mundzir pamitan seraya berkata lembut: “Saya pamit wahai Habib...”
Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus menunduk dan berkata dengan lembut pula: “Tidak makan dulu kah?”
Al-Habib Mundzir menjawab: “Saya pamit jika habib ridho.”
Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus pun berdiri dan mengizinkan kepergian al-Habib Mundzir, lalu terbersit dalam hati al-Habib Mundzir: “Aku terbebani hutang sangat besar karena masalah perluasan dakwah di Indonesia, mudah-mudahan kedatanganku ke sini bisa membuat Allah menyelesaikan masalah hutang-hutangku, beban beratku ini kutumpahkan pada al-Habib Ali, semoga Allah Swt. meringankanku”, demikian renungan al-Habib Mundzir saat itu sambil melangkah keluar dari kediaman beliau.
Saat itu al-Habib Mundzir tidak sendiri, ada beberapa orang yang bersamanya. Mereka berkata: “Kami sering kunjung ke sini, belum pernah al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus mau berdoa kecuali saat kamu yang memintanya, belum pernah al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus izinkan kami pamitan di waktu makan kecuali saat kamu yang minta izin pulang.”
Dan salah satu diantara mereka adalah seorang pengusaha yang sukses. Maka ketika al-Habib Mundzir beserta rombongan sudah keluar rumah, al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus memanggil orang itu dan membisikinya sesuatu, lalu beliau masuk ke dalam rumah.
Orang tersebut mendatangi al-Habib Mundzir dan berkata: “Habib Ali berkata pada saya, kamu punya hutang dakwah yang besar dan berat yang harus dibayarkan. Saya diperintah al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus untuk melunasi semua hutangmu.”
Al-Habib Mundzir kaget dan berpaling pada al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus, namun beliau sudah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Di lain waktu, al-Habib Mundzir datang bersilaturrahim pada al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus. Dalam kepala al-Habib Mundzir penuh dengan permasalahan dakwah bagai gunung yang menindih, kesibukan, masalah perluasan dakwah, pengaturan dakwah dan lain sebagainya. Maka ia datang dengan lemah, duduk di hadapan al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus. Maka al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus terdiam, diam, lalu menggeleng-gelengkan kepala beliau, lalu menangis, dan berkata: “Berat… berat..,” sambil mengipasi dirinya dengan kipas di tangannya dan mengipasi al-Habib Munzir pula.
Tak lama kemudian al-Habib Mundzir meminta pamit untuk undur diri. Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus pun mengangkat kedua tangannya untuk berdoa mendoakan al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa.
Belum sampai al-Habib Mundzir di Jakarta, seluruh masalah dakwah beliau ternyata telah terselesaikan. Ini adalah kisah nyata betapa dahsyatnya doa shalihin.

Catatan tambahan: Al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus adalah seorang waliyullah kelahiran Purwakarta, Jawa Barat pada tahun 1919 M dan pernah lama tinggal di Subang Jawa barat di masa kecilnya. Beliau wafat pada Kamis petang, tanggal 28 Jumadil Akhir 1431 H (13 Mei 2010 M), 40 hari setelah kewafatan al-Quthb al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf (Jeddah).

Sya’roni as-Samfuriy, Indramayu 18 Muharram 1434 H

Sabtu, 01 Desember 2012

Foto-foto al-Habib Umar bin Hafidz dalam rangka da'wah di Indonesia dari Jum'at 16 Muharram - 21 Muharram 1434 H

Foto-foto al-Habib Umar bin Hafidz dalam rangka da'wah di Indonesia dari Jum'at 16 Muharram - 21 Muharram 1434 H


Kedatangan al-Habib Umar bin Hafidz di kediaman al-Habib Muhsin al-Hamid
Cidodol, Jum'at 16 Muharram 1434 H

Sholat Shubuh berjamaah di kediaman al-Habib Muhsin al-Hamid-cidodol
Cidodol, Jum'at 16 Muharram 1434 H

Doa bersama di Majelis al-Habib Husein bin Abubakar al-Aydrus
Luar Batang Sabtu pagi 17 Muharram 1434 H

Kunjungan al-Habib Umar bin Hafidz di kediaman al-Habib Abdurrahman bin Syekh Alattas
Asembaris Sabtu pagi 17 Muharram 1434 H

Tabligh Akbar Majelis Gabungan bersama al-Habib Umar bin Hafidz
malam Ahad, Jakarta 18 Muharram 1434 H









KISAH KEMULIAAN AKHLAK AL-HABIB UMAR BIN HAFIDZ


KISAH KEMULIAAN AKHLAK AL-HABIB UMAR BIN HAFIDZ

Al-habib Umar bin Hafidz Makan Makanan Sisa Santri-Santrinya



Suatu ketika saat al-Habib Mundzir sedang mondok di Rubath Darul Musthafa Yaman, saat itu di Yaman dalam kondisi perang, sehingga segala hal serba sulit.
Di saat stok makanan sudah menipis, karena saat itu pengiriman makanan dari luar Yaman diblokir oleh pihak penjajah, makanan hanya cukup untuk keluarga al-Habib Umar bin Hafidz.
Namun apa yang terjadi, ketika al-Habib Mundzir selesai makan beliau memergoki anak al-Habib Umar bin Hafidz sedang mengambil sisa-sisa makanan al-Habib Mundzir dan santri-santri yang lain.
Lantas al-Habib Mundzir mempertanyakan kepada anak tersebut sedang apa. Dengan polosnya anak al-Habib Umar bin Hafidz menjawab: “Saya mengambil sisa-sisa makanan yang tersisa buat Abah (al-Habib Umar bin Hafidz) yang belum makan.”
Demikianlah akhlak Guru Mulia al-Habib Umar bin Hafidz yang begitu mulia.  Walau al-Habib Umar bin Hafidz dan keluarganya tidak makan asalkan santri-santrinya tidak kelaparan.
Adakah dari kita yang sanggup mencontoh akhlak beliau al-Habib Umar bin Hafidz yang rela mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri meskipun dalam kondisi yang sangat sulit.
Allahumma sholli wasallim ‘alaa sayyidinaa Muhammadin sholaatan taj’alunaa bihaa min ahlil ‘ilmi dzoohiron wabaathinan. Watahsyurunaa bi’ibaadikashshoolihiina fii dunyaanaa wa ukhroonaa. Aamiin yaa Mujiibassaailiin.


Sya’roni as-Samfuriy, Cirebon 17 Muharram 1434 H